Category Archives: Film Korea

Film dokumenter BTS ” Break The Silence: The Movie ” telah mengalahkan “How You Like That” dari Blackpink

Film dokumenter BTS ” Break The Silence: The Movie ” telah mengalahkan “How You Like That” dari Blackpink – diberi tanggal baru untuk dirilis di bioskop Korea. Itu telah ditunda oleh masalah yang terkait dengan virus corona .

Film ini sekarang akan tiba di bioskop pada 24 September dan ditayangkan secara eksklusif di lokasi yang dioperasikan CGV. Sebelumnya telah direncanakan untuk dirilis di Korea dan di tempat lain pada 10 September, tetapi dengan kasus COVID-19 baru melonjak pada hari-hari sebelum jadwal rilis, rilis tersebut dihentikan.

Rilisan di wilayah internasional, di mana bioskop dibuka, telah berlangsung. Situs web btscinemas.com menunjukkannya telah dibuka di 51 wilayah. Situs tersebut menayangkan film tersebut dibuka di 30 pasar lagi mulai 24 September, termasuk AS, Kanada, Afrika Selatan, dan Hong Kong. Hampir semua pertunjukan yang bertanggal harus diatur ulang. 33 wilayah lainnya terdaftar segera kunjungi drama korea romantis.

Film ini mengikuti bintang K-pop melalui tur dunia band “Love Yourself: Speak Yourself” tahun 2019 melalui AS, Eropa dan Asia dan tempat-tempat termasuk Stadion Wembley dan Rose Bowl. Termasuk rekaman konser dan di belakang layar, itu diproduksi oleh Big Hit Three Sixty, anak perusahaan dari agensi band, Big Hit Entertainment.

Single terbaru BTS “Dynamite” tiba enam bulan setelah perilisan album studio keempat grup, “Map of the Soul: 7,” yang dirilis pada bulan Februari. Video musik “Dynamite” menjadi pemegang rekor instan untuk jumlah penonton YouTube tertinggi untuk pemutaran perdana video. Pada 23 Agustus, itu juga menetapkan rekor YouTube baru untuk penayangan dalam 24 jam pertama rilis dan menduduki puncak 100 juta penayangan dalam periode waktu itu, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, “How You Like That” dari Blackpink.

Laris di Era Pandemik, 5 Fakta ‘Intruder’ Film Terbaru Song Ji Hyo 

Laris di Era Pandemik, 5 Fakta ‘Intruder’ Film Terbaru Song Ji Hyo  –  Film terbaru aktris Korea Selatan Song Ji Hyo berjudul Intruder yang baru dirilis pada pekan lalu membuahkan hasil positif. Intruder meraih 49.578 penonton di hari pertama penayangannya pada Kamis (4/6) lalu. Jumlah tersebut dirilis oleh Dewan Perfilman Korea (KOFIC).

1. Film pertama dengan jumlah penonton tertinggi
Intruder memecahkan rekor sebagai film dengan jumlah penonton bioskop Nonton film lk21 hari pertama tertinggi sejak pandemik COVID-19 melanda Korea Selatan. Rekor ini sebelumnya dipegang oleh Beasts Clawing at Straws yang dirilis pada 19 Februari lalu. Jumlah penonton Beasts Clawing at Straws mencapai 40 ribu penonton di bioskop pada hari pertama pemutaran film. Film yang dibintangi Shin Hyun Bin dan Bae Sung Woo ini merupakan film terakhir yang diputar sebelum industri bioskop ditutup akibat COVID-19.

2. Kebangkitan film Korea Selatan
Film yang dibintangi Song Ji Hyo ini juga diputar secara internasional di 26 negara seluruh dunia. Pengamat industri film Korea Selatan menilai, film bergenre misteri dan thriller ini diharapkan sebagai penanda kebangkitan industri tersebut pasca COVID-19 mewabah di sana.

3. Sinopsis Intruder
Film Intruder mengangkat kisah perempuan bernama Yoo Jin (Song Ji Hyo) yang hilang pada 25 tahun lalu. Ketika Yoo Jin kembali ke keluarganya beberapa dekade kemudian, kakak laki-lakinya Seo Jin (Kim Moo Yeol), yang sempat mengalami trauma akibat kehilangan Yoo Jin, merasa curiga terhadap adiknya.

4. Sisi gelap Song Ji Hyo
Song Ji Hyo menunjukkan sisi gelapnya lewat Intruder. Pasalnya, selama sepuluh tahun terakhir publik mengenal Song Ji Hyo sebagai sosok yang penuh canda tawa karena ia menjadi pembawa acara Running Man. Song Ji Hyo, sebagaimana wawancara yang ia lakukan dalam media Korsel Yonhap, mengatakan dirinya ingin memainkan karakter misterius dan gelap. Aktris kelahiran 15 Agustus 1981 itu mengubah warna rambut, lipstik, dan mengenakan busana sesuai karakter gelap yang ia perankan.

5. Song Ji Hyo berdiet demi film
Song Ji Hyo menunjukkan kesungguhannya dengan berdiet demi karakter yang ia perankan di Intruder. Ia bahkan turun sebanyak 7kg agar terlihat menakutkan. Ia mengaku awalnya cuma kehilangan 5kg, kemudian berkurang lagi 2kg. Kesehatannya pun sempat terguncang. Namun, berat badannya kembali turun saat ia mendalami karakter. Ia diet melalui makanan dan lari sejauh sepuluh kilometer setiap harinya. Usai syuting berakhir, berat badannya kembali ke semula dan bahkan bertambah dua kali lipat.

Time to Hunt Review: Perburuan Pembunuh Berdarah Dingin yang Menegangkan

Time to Hunt Review: Perburuan Pembunuh Berdarah Dingin yang Menegangkan – Time to Hunt merupakan film terbaru Korea Selatan yang telah tayang di Netflix sejak April 2020 kemarin. Film bergenre drama kriminal ini disutradarai oleh Yoon Sunghyun, dibintangi oleh Lee Je Hoon, Park Hae Soo, Ahn Jae Hong, dan Choi Woo Shik yang sebelumnya bermain dalam film Parasite. Jangan lewatkan tayangan film berkualitas hanya di HERMES21.

Bercerita tentang Jun Seok yang baru saja keluar dari penjara dan ingin meninggalkan “negeri distopia” bersama dengan teman-temannya. Namun mereka membutuhkan modal materi agar bisa memulai hidup baru di tempat lain.

Jun Seok pun merencanakan sebuah perampokan kasino dan mengajak teman-temannya untuk melancarkan aksi tersebut. Rencana tersebut pun membuat mereka harus terjebak dalam sebuah pelarian tanpa henti karena diburu oleh sosok pembunuhan misterius yang cerdik dan tak akan pernah berhenti hingga “pekerjaannya” selesai.

Akting Lee Je Hoon dan Park Hae Soo yang Mampu Mempengaruhi Penonton
Unsur paling menonjol dalam film drama kriminal dengan nuansa thriller ini adalah eksekusi akting dari setiap karakter. Terutama Lee Je Hoon sebagai Jun Seok dan Park Hae Soo sebagai Han si pembunuh bayaran, karena mereka berdua memiliki screentime paling banyak.

“Ikatan” mereka sebagai pemburu dan buruannya sangat menarik untuk disaksikan. Jun Seok digambarkan sebagai karakter yang peka dan paling bisa merasakan kehadiran dari Han. Sementara Han merupakan sosok misterius dengan mata dingin yang langsung bikin kita merasa khawatir semenjak adegan pertamanya di dalam film. Je Hoon dan pemain lainnya, Jae Hong dan Woo Shik, mampu menunjukan ketegangan dan ketakutan yang membuat kita sebagai penonton jadi ikut paranoid.

Alur Cerita yang Dragging dan Editing yang Berantakan
Meski memiliki banyak adegan menegangkan yang akan membuat kita menahan nafas, perjalanan kita akan cukup panjang untuk mencapai babak tersebut. Selama sekitar 30 menit pertama, cerita terlalu diulur-ulur dan cukup membuat penonton jadi bosan.

Banyak adegan-adegan footage kota diiringi dengan lagu tanpa esensi. Mungkin maksudnya untuk memberikan nilai estetika, namun estetika sinematografi dalam sebuah film juga dipengaruhi melalui proses editing. Sayangnya, film ini juga memiliki editing yang berantakan.

Misalnya ada sebuah adegan yang sebetulnya sudah mulai terbangun tensi suspense dan tegangannya, tiba-tiba dipotong ke latar tempat yang berbeda lalu kembali lagi ke adegan tersebut. Begitu juga editing dari satu babak ke babak lainnya, peralihan adegan yang diterapkan tidak memiliki flow yang enak untuk diikuti oleh penonton.

Ada banyak plot hole yang tercipta dan kemunculan karakter baru yang terlalu dipaksakan hanya untuk mempermudah salah satu karakter. Padahal film ini memiliki plot maju yang seharusnya lebih muda untuk menciptakan storyline dengan eksekusi editing yang rapi.

Percampuran Dari Berbagai Genre yang Tanggung
Time to Hunt mengandung beberapa genre; drama, kriminal, thriller, dan action. Adegan perampokan seharusnya bisa menjadi salah satu kesempatan untuk menunjukan unsur action. Namun adegan tersebut justru terlihat sangat biasa saja dan tidak ada gregetnya sama sekali. Tidak ada adegan tengkar fisik, namun banyak adegan tembak-tembakan yang begitu-begitu saja. Meski beberapa terasa menegangkan, tapi semuanya diakhiri dengan anti klimaks.

Unsur kriminal juga tidak terlalu dieksplor secara mendalam. Dilihat dari sinopsisnya, kita akan berekspektasi tentang negeri dystopian seperti apa yang akan kita lihat? Namun, kita hanya melihat tampilan negeri dystopian secara visual. Seperti kota yang tampak kotor, area pertokoan yang sudah tutup karena krisis ekonomi, dan sekumpulan orang dengan pakaian lusuh.

Tapi ada penjelas secara sistem atau bagaimana “negeri” tersebut bekerja, mengapa tempat tersebut disebut dystopian. Kita juga tidak bisa mengharapkan adegan perampokan yang cerdik dengan perencanaan sempurna yang akan membuat kita terpukau.